
Kalau ada satu hal yang bikin orang Sulawesi Selatan dan Barat rela antre sampai keringat tujuh turunan di bawah terik matahari bulan Ramadhan, itu bukan harta warisan, bukan pula tiket mudik gratis. Itu jalangkote. Si kue goreng berbentuk setengah lingkaran yang isinya campuran wortel, kentang, bihun, dan telur rebus dibalut kulit tipis yang kalau digigit berbunyi krrrek seperti suara hati yang retak waktu tahu harga bawang naik lagi di bulan Ramadhan
Jalangkote itu bukan sekadar makanan. Dia adalah testimony kesaksian hidup manusia kampung yang sudah ribuan jam menghabiskan waktunya berdiri di pinggir jalan, menatap wajan panas, sambil berharap rezeki datang sebelum adzan Maghrib berkumandang.
Sabar di Kulit Jalangkote
Dalam psikologi, ada konsep yang disebut delayed gratification kemampuan menahan keinginan demi hasil yang lebih baik di kemudian hari. Peneliti Walter Mischel pernah nguji ini pakai marshmallow. Tapi di kampung saya, ujiannya lebih keras: jalangkote panas di depan mata, dan waktu buka puasa masih dua jam lagi.
Kulit jalangkote itu tipis tapi kuat. Dia harus ditepuk-tepuk dengan jari, dilipat dengan hati-hati, lalu dijahit tepinya biar isinya tidak tumpah waktu digoreng. Kalau terburu-buru, kulitnya sobek, isinya berceceran di minyak panas, dan jadilah bukan jalangkote lagi jadilah bencana goreng-gorengan. Persis seperti manusia yang tidak sabar: kalau dipaksa sebelum waktunya matang, yang keluar bukan yang terbaik, tapi kekacauan.
Orang tua dulu bilang, “Nandiang ulle mu-muaq nandiang asabbarangmu.” Kalau tidak ada kesabaranmu, tidak ada kekuatanmu. . Kalimat yang lahir dari dapur, bukan dari buku tebal.
Selamat menanti waktu berbuka. Jangan lupa beli jalangkote.




