Budaya Sungai: Tantangan Adaptasi Insan BK di Era Postmodern
Di antara hal yang kulakukan saat pulang kampung pada musim mudik tahun 2026 ini adalah mandi di sungai. Sungai tempat kami mandi sewaktu kecil memiliki banyak bagian yang dinamakan tebat. Ada beberapa tebat yang tersedia, di antaranya Tebat Yatin, Tebat Pak Roso, dan Tebat Wakdul. Nama-nama tebat ini disematkan kepada orang yang tinggal di dekatnya. Jika ternyata rumah seseorang berada di dekat sungai, sangat mungkin namanya dijadikan petunjuk lokasi tebat tersebut.
Tebat ini adalah tempat yang nyaman untuk berendam, apalagi di tengah cuaca panas. Sungai yang mengalir jernih dan gemericik air yang dingin menambah suasana nyaman saat berendam di aliran sungai atau tebat tersebut. Ah ya, aku belum mengabari bahwa kampungku berada di pedalaman Provinsi Lampung; sebuah kampung yang sudah ada sejak tahun 60-an.
Seiring berjalannya waktu, lambat laun kebiasaan itu mulai hilang. Sungai yang jernih dan tenang berubah menjadi tumpukan lumpur. Tak terlihat lagi keindahan dan kebeningan airnya. Yang tampak hanyalah aliran yang mengecil dan terlihat keruh. Ibarat kata, yang dahulu menawan hati, sekarang tak lagi sedap dipandang. Bisa jadi, jika saat ini pun keengganan bermain di sungai sudah muncul, di masa depan keinginan untuk pergi ke sungai akan benar-benar menghilang.
Padahal, dahulu kebudayaan di Indonesia dimulai dari sungai. Tengoklah kebudayaan kerajaan terdahulu yang identik dengan sungai. Kerajaan Kediri dan Singasari sangat lekat dengan Sungai Brantas. Begitu pula Sungai Citarum yang menjadi saksi sejarah Kerajaan Tarumanegara. Daerah aliran budaya sungai menjadi bagian yang tak terlepaskan. Lihatlah bagaimana Kerajaan Kutai Kartanegara membangun reputasinya di sepanjang Sungai Mahakam, atau bahkan Kerajaan Sriwijaya yang mendominasi sepanjang Sungai Musi.
Namun, semua itu kini tinggal cerita. Semakin menyempitnya cakupan hutan yang menyelimuti Bumi Nusantara menjadikan sungai-sungai tersebut menyurut, bahkan mungkin di masa depan hanya tinggal kenangan.
Hal serupa terjadi dengan perkembangan Bimbingan dan Konseling (BK). Sejak muncul pada era 60-an, bimbingan dan konseling terus berkembang. Bahkan sekarang, BK menjadi salah satu jurusan favorit dalam bidang ilmu pendidikan. Fenomena ini serupa dengan aliran sungai bening yang bagaikan untaian permata, membawa keteduhan bagi siapa pun yang melihatnya. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari berbagai peran bimbingan dan konseling serta tingginya kebutuhan layanan terhadap kondisi psikologis peserta didik maupun masyarakat pada umumnya.
Berkembangnya bimbingan dan konseling merupakan hal yang patut disyukuri. Hanya saja, tantangan zaman menuntut layanan ini untuk terus beradaptasi. Tengoklah bagaimana paradigma dalam bidang bimbingan dan konseling terus berkembang, mulai dari paradigma medis-organis, modern, hingga paradigma postmodern saat ini.
Era postmodern menjadi sebab pandangan yang bersifat monokultural tak lagi relevan. Kritik terhadap aspek ontologis, epistemologis, dan aksiologis ilmu menyebabkan munculnya beragam dinamika. Kebenaran tidak lagi menjadi identitas universal dan bersifat tunggal. Tokoh-tokoh seperti Jean-François Lyotard, Michel Foucault, dan Jacques Derrida mengkritik kebenaran universal yang digaungkan masyarakat Barat.
Pun demikian Insoo Kim Berg dengan pendekatan Solution-Focused Brief Counseling (SFBC)-nya yang melihat masa lalu terlalu berorientasi pada masalah, bukan pada solusi. Tak kalah pentingnya, Uichol Kim dalam buku Indigenous and Cultural Psychology menuliskan bagaimana budaya Barat tidak bisa sepenuhnya memahami dinamika masalah dalam masyarakat Asia. Di Indonesia sendiri, patologi budaya memberikan pengaruh terhadap kehidupan masyarakat sebagaimana yang dituliskan Prof. Kwartarini Wahyu Yuniarti dalam Psikopatologi Lintas Budaya.
Akankah dinamika di atas disertai dengan peningkatan pemahaman insan bimbingan dan konseling, atau justru insan bimbingan dan konseling telah merasa puas, lalu berhenti dan terjebak pada paradigma masa lalu? Tentu harapannya, insan bimbingan dan konseling juga terus berkembang mengikuti perkembangan zaman agar profesi ini tidak serupa dengan budaya sungai tadi: mengering, hilang, bahkan terlupakan dan tak lagi terkenang.
penulis:
Dr. Amin Wahyudi, M.Pd.,Kons
(Dosen Bimbingan Konseling UAD Yogyakarta)





