Opini

Hijabers dan Ramadhan

Gerbang pintu yang penuh dengan berkah telah dibuka. Berkah Yang Sang Pencipta limpahkan di bulan ini begitu banyak, sehingga apa pun profesi, strata sosial dan pendidikanmu,  semua punya hak untuk menikmati cipratan berkahNYA. Salah satu berkah yang menurutku sesuai dengan konteks saat ini adalah semua jin, iblis, syaitan dikerangkeng. Mengapa? karena beberapa bulan terakhir ini pikiranku selalu dijajah oleh film-film dan iklan-iklan yang mengedepankan kemolekan tubuh yang memikat pikiran.

Sama seperti di bulan Ramadhan yang lalu-lalu, saya tak akan kaget dengan film-sinetron yang hampir keseluruhan cerita dan lakonnya mengedepankan nafas islami (walaupun terkadang nafasnya hanya setengah-setengah) dan berita infotainmet yang berubah 180 derajat. Terkait dengan hal tersebut,  penting untuk kita cermati fashion wanita-wanita itu yang terinkluf dalam satu komunitas yaitu hijaber’s.

Maraknya komunitas dan perkembangan  fashion patut diapresiasi secara biasa-biasa saja karena hal itu merupakan lompatan salah jalur yang kemudian dijadikan komoditi baru untuk meraup keuntungan. Apalagi saat ini kita akan memasuki gerbang yang penuh berkah. Perkembangan fashion yang saya maksudkan di sini; yakni, fashion hijab  yang kita lihat di sekeliling kita dan kotak ajaib (televisi) dengan balutan kain yang hampir semua warna menyilaukan mata meraka rangkai, penutup kepala yang dililitkan hingga sampai leher,  pakaian yang melambai-lambai dengan berbagai aksesoris. Jadi, tak perlu kita mengharuskan memakai itu jika hanya ingin dikatakan ngingutin trend dll.

Dulu, di kampungku kalian akan melihat penjual kacang (rebus-kering) di setiap mesjid pada malam hari. Penjual kacang tersebut sifatnya dadakan artinya hanya ramai ketika memasuki bulan Ramadhan hingga usai. Ramadhan tahun kemarin (2012), penjual kacang yang saya maksud telah hilang satu persatu, tanpa aku tahu penyebabnya. Itu tak bisa disalahkan, karena penikmat kacang pada masa sekarang ini berevolusi menjadi penikmat kacang yang lain.

Saat ini perkembangan fashion di kampungku sangat signifikan. Hal itu ditandai dengan banyaknya toko yang menjual hijab modern dan maraknya iklan-iklan,  komunitas,  para tokoh idola yang mengenakan pakaian hijab modern akan berdampak pada banyaknya peminat pakaian. Jadinya, hampir semua wanita menggunakan pakaian hijab modern yang sama seperti apa yang tampak dalam kotak ajaib yang kalian lihat. Saya berharap agar perkembangan fashion itu tidak seperti penjual kacang di kampungku.

Lahirnya dan matinya dakwah

Niat awal lahirnya hijab modern, mengutip pernyataan Bang fajrin (mahasiswa UMY) “merupakan sebuah jalan dakwah alternative untuk memasyarakatkan dan membumikan jilbab di kalangan remaja”. Artinya, dikarenakan ketidak efektifan dalam memikat wanita menggunakan hijab.  Sejalan dengan hal tersebut, Saskia A.Mecca dalam sebuah acara yang dipandu Dedy C (Hitam Putih) mengemukakan “dia memakai hijab modern sebagai langkah awal sebelum berhijab secara total yang sesuai dengan syar’i”. Saskia menambahkan, kemudian dia mencoba mencari solusi agar wanita mengenakan hijab, dengan memanfaatkan sedikit pengetahuannya tentang fashion, dia menciptakan hijab modern yang dia namai dengan jenis turban.

Mencermati niat awal dalam terciptanya fashion hijab modern, tentunya harus diacungi jempol, sebagai langkah yang sangat mulia. Tapi, kenyataannya saat ini saya melihat terjadi pergeseran makna, pergeseran makna ini yang saya amati di kampungku. Menjadikan pakaian hijab hanya sebagai ajang untuk gaya-gayaan,  meningkatkan eksistensi keAkuan. Artinya; ada upaya mengamnesiakan nilai hijab, pemenuhan mode yang mengesampingkan makna dan nilai-nilai yang terkandung dalam hijab, yang di mana hijab identik dengan harga diri wanita yang harus dijaga.

Terkait dengan semangat hijab, keadaannya makin diperparah dengan maraknya fashion show dan seminar yang diselenggarakan oleh para produsen hijab modern dan para perkumpulan sebagai wujud kecintaaan pada visualisasi tubuh yang sejalan nafas islami. Saya sering berguman dalam hati “akan lebih efektif dan bermanfaat dalam syiar hijab ketika tidak terbatas pada bagaimana tampil cantik dengan hijab akan tetapi memberikan pengarahan agar langkah-langkah dalam berpakaian itu sesuai dengan konsep islam, yang mengedepangkan cantik berhias di depan Imamnya.

Nampaknya, saya melihat para produsen membaca peluang ini sebagai pemuas hasrat kapitalis, menciptakan budaya komsumtif dengan cara memproduksi pakaian-pakaian hijab modern sebagai trend, penggiringan persepsi tak peduli dengan makna hijab yang sesungguhnya. Dalam hal ini, para produsen mengincar pemasukan yang lebih untuk menambah keuntungan yang acuh terhadap makna hijab.

Melihat fenomena hijaber’s, bukan tidak mungkin dalam bulan ramadhan yang suci kali ini kita akan disuguhi pemandangan yang mampu mengaburkan niat kita dalam berpuasa, bahkan mungkin mampu mengalahkan es pisang ijo, katiri sala, kue lopis, pallu butung, burongko, kue bingka, kue agar-agar, kicak, dan es buah yang ada di dalam kaca almari para penjual jajanan. Artinya para pemakai hijab modern menciptakan syaitan-syaitan di dalam tubuh kita seraya berkata inilah saya, pandangilah kecantikan saya!. Jika kita mampu memperdaya laki-laki dengan panggilan manis itu, kemungkinan setan itu adalah kita sendiri.

Muhammad Junaedi Mahyuddin

Pria kelahiran dari kampung kecil yang bernama Banua baru. Saat ini aktif mengabdi sebagai pengajar di salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah di Sulawesi Selatan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *