Anak Muda, Tentukan Posisimu!.
Beberapa hari yang lalu saya sempat melihat foto kegiatan yang diposting Kanda Muhammad Ridwan Alimuddin dalam Face Book. Foto yang disunting adalah foto kegiatan pemutaran film dokumenter bapak Almarhum H. Baharuddin Lopa, di Pambusuang. Dari foto itu, sedikit bisa menceritakan, bahwa kegiatan yang dilakukan oleh panitia, diapresiasi oleh masyarakat Pambusuang. Di foto itu pula nampak bahwa kegiatan yang dilakukan sangat sederhana dan nampak bapak-bapak, ibu-ibu, remaja putra/i dan anak-anak serius menyaksikan film tersebut. Kegiatan-kegiatan seperti itu, seharusnya dapat menjadi pemicu bagi kita, bahwa kita perlu melakukan kegiatan yang memberikan mamfaat bagi semua kalangan, terkhusus anak-anak dan remaja.
Sosok yang digelari sebagai bapak pendekar hukum ini sebagai bukti bahwa orang dari Sulawesi Barat mampu mampu unjuk gigi, tidak hanya menjadi pendekar kacangan. Pemberian gelar tersebut tentunya sangat membanggakan kita sebagai masyarakat Sulawesi Barat karena di daerah tersebut mampu melahirkan tokoh nasional yang sangat dikagumi di Indonesia bahkan di mata Internasional apalgi dikalangan penegak hukum. Tidak jarang nama beliau masih dibicarakan di Indonesia dan masih dicari sosok seperti beliau saat ini,
Setelah saya selesai melihat foto yang disunting Muhammad Ridwan Alimuddin. Saya kemudian membuka laptop lalu, menelusuri orang Sulawesi Barat yang telah berhasil mengharumkan nama Sulaweisi mandar. Ternyata dari hasil penelusuranku, bukan hanya Baharuddin Lopa sosok yang membuat tanah Mandar ini menjadi harum. Kita juga mungkin pernah mendengar dan melihat di layar kaca televisi nama Muhammad Syarkawi Rauf yang saat ini memegang peranan penting dalam dunia perekonomian Indonesia. Syarkawi rauf dilahirkan di Tinambung dan saat ini pula tercatat sebagai tenaga pengajar di salah satu universitas negeri di Sulsel. Ada juga bapak Basri Hasanuddin yang pernah menjadi Menteri kordinator bidang kesejahteraan rakyat dalam masa pemerintahan Abdurrahman Wahid. Ada juga Muhammad Ridwan Alimuddin penulis beberapa buku tentang laut. Ada juga Maestro parrabana towaine Cammana yang pernah mendapatkan penghargaan Satya Lencana Kebudayaan dari bapak Presiden SBY. Ada juga Maldini Pali, pemuda kelahiran Mamuju yang saaat ini bermain di skuad U-19. Ada juga Azhari Sastranegara, termasuk dalam kategori ahli dalam bidang analisis keamanan struktur terhadap benturan. Pria kelahiran Majen, adan dari Suradi Yasil ini masuk dalam kategori orang pintar asal Indonesia versi majalah Tempo.
Tidak hanya berhenti pada tokoh di atas, di kota semarang saya pernah berjumpa seorang pemuda yang bernama Imam Hidayat. Pemuda kelahiran Wonomulyo, 17 Des 1992,sempat mencicipi bangku sekolah di SMP 5 negeri dan SMA neg 1 polewali. Pemuda itu datang ke semarang untuk mengikuti lomba karya ilmiah. Ada beberapa prestasi yang ditorehkan pemuda tersebut, diantaranya, hasil penelitiannya mampu mengantarkannya ke Jerman dan Amerika. Penelitian tentang arang berhasil memenangkan ajang Bayer Young Environmental Envoy (BYEE) pada tahun 2012 dan berhak mewakili Indonesia ke Leverkusen, Jerman.
Kita kekurangan stok penerus
Ada yang menarik dari prestasi wakil Sulbar yang berhasil menyabet gelar kontes kecantikan di Indonesia. Sebagaian orang tetntu menerima dan berbangga dengan kemenangan tersebut dan sebagian orang tentunya merasa tercurangi. Apa yang dia raih tentu sebuah prestasi yang luar biasa karena dapat membuat daerah kita dikenal secara Nasional dan bahkan di kancah Internasional. Tapi kita tak bisa bangga 100% karena beredar kabar di dunia maya dan kemarin di Kolom ini juga Muhammad Ridwan Alimuddin membahas itu, yang intinya bahwa wanita tersebut bukan berasal dari Sulbar melainkan hanya titipan yang pada saat itu daerah Sulbar kosong peserta lalu panitia mengijinkan wanita tersebut mengisi kekosongan dari daerah kita. Kejadian itu tentunya pukulan telak bagi kita, dan mungkin terlalu dini jika saya menyimpulkan bahwa kita kekurangan stok generasi penerus yang dapat dijadikan sebagai wakil untuk bisa mentas di kancah Nasional. Tapi benarkah kita kekurangan stok generasi yang bisa diandalkan?. Jika memang iya, tentunya ini menjadi tanggung jawab kita semua!.
Jika menengok kebelakang, tentu itu merupakan kemunduran daerah kita. Pasalnya, dulu sebagian orang-orang dari daerah kita mampu unjuk gigi dan bersaing, seperti tokoh yang saya sebutkan di atas. Pertanyaanku kemudian, kemana dirimu pamuda/i apakah kau salah alamat atau lagi mencari alamat palsu?.
Daerah kita butuh stok pemegang tongkat estafet dari orang-orang sukses di atas. Kita tentunya tidak mengijinkan tongkat itu berhenti pada mereka saja atau direnggut oleh orang lain yang mengatas namakan dari daerah kita. Peran Orang tua, lingkungan dan sekolah hanyalah instrumen atau alat agar diri kita menemukan potensi yang kita miliki guna menghasilkan stok pemegang tongkat dari tokoh- tokoh yang sudah ada. Tapi apalah arti alat jika kita tidak gunakan secara baik. Karena yang paling berperan dalam penentuan sikap kita timbul dari dalam diri kita sendiri, dari kemauan kita. Sangat perlu menumbuhkan kesadaran dari dalam diri kita sendiri sebagai calon pemegang tongkat estafet.
Mengamati perkembangan dunia saat ini sungguh sulit untuk diantasipasi. Maaf jika saya pesimis. Dimulai dari media pertelevisian, sangat banyak tayangan-tayangan yang seharusnya tak layak untuk ditayangkan dalam televisi apalagi anak-anak, justru menjadi komsumsi anak-anak. Dari media internet, saat ini sangat mudah untuk mengakses apa yang mereka cari. Saya menuliskan di sini bukan untuk menyalahkan siapa-siapa. Hanya berharap agar kita sadar diri dan mulai memikirkan ini, agar kita tidak terjerembat pada kubangan lumpur dunia yang membuntutinya.
Dari perkembangan dunia, muncul Persoalan yang begitu kompleks dan kita tentunya tidak akan menyerahkan atau menyalahkan semuanya pada orang tua, sekolah,atau lingkungan krn sebenarnya terjadinya kesalahan-kesalahan yang kita alami nantinya, jika dipersenkan 80% itu diakibatkan oleh diri kita pula dengan kata lain kita pula yang mengijinkan kesalahan tersebut dan 20% diakibatkan oleh faktor lain
Tahukah kita bahwa akal kita diciptakan agar kita dapat menggunakannya dalam befikir dan menimbang segala sesuatunya. Contoh kecil, mis, ketika kita akan merokok, tentunya sebelum kita melakukan atau mengijinkan diri kita untuk menjamah rokok, alarm akal kita berbunyi, sudah pantaskah saya untuk merokok, apa mamfaat yang akan saya dapatkan dan bagaimana dengan tubuh ini jika menghisap rokok tersebut?.
Anehnya sebagian dari kita menggunakan akal tersebut sebagai jalan untuk memuluskan niat kita,mis: merokok dapat memancing inpirasi, atau biar keren. Tahukah anak muda bahwa saat ini bangsa, daerah kita sangat membutuhkan para pemuda yang mempunyai jiwa dan akal yang sehat. Bukan pemuda yang pandai untuk merusak atau pemuda yang tak tahu ke mana arah dan tujuannya,tak tahu mengapa dia ada di bumi ini.
Memang, kita saat ini kekurangan stok generasi penerus. Beberapa bulan kemarin saya berada di polman dan ini sangat berbanding terbalik dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan di Pambusuang. Alangkah terkejutnya saya, ketika berjumpa segerombolan anak remaja (laki-laki dan perempuan) menyusuri jalan provinsi trans sulbar. Mereka berjalan, dengan membusungkan dada sambil memegang sebatang rokok, membawagitar, berpakaian hitam-hitam dengan simbol regge dan punk yang sebagian bertuliskan freedom. Berjalan hingga puluhan kilometer, sesekali mereka mengajak pengemudi kendaraan beroda empat-lebih-untuk mereka tumpangi.
Pernah juga saya menjumpai sekumpulan remaja berkumpul sambil menghirup lem sampai oleng. Sedih tapi inilah kondisi riil yang terjadi di sekitar kita. Dalam pikiranku, remaja ini dalam tahap pencarian identitas, itu adalah wajar. Menjadi tak wajar ketika apa yang mereka banggakan/tunjukkan itu justru membawanya pada lumpur kehidupan.
Seperti itukah dirimu?, itukah yang kau banggakan?.
Pentingnya cita-cita
Ada beberapa alasan yang sering muncul ketika saya bertemu dengan orang yang saya jumpai lalu diskusi, terkait dengan cita-citanya: 1, saya tak mempunyai biaya untuk sekolah, 2, saya memang tidak diberikan kepintaran dalam hal belajar, 3, kita cuman anak desa yang kalah dari orang kota. Dari beberapa alasan yang saya tuliskan itu, saya berharap untukt tidak menirunya. Saat ini, ada beberapa kemudahan yang diberikan pemerintah dan perusahaan, untuk kita. Telah banyak bantuan-bantuan dari pemerintah dan perusahaan yang memberikan bantuan dana dalam hal memotivasi kita dalam belajar, membiayai sekolah kita. Kepintaran tidak dapat diraih dengan hanya duduk manis didepan televisi atau komputer atau dengan cara mengeluh. Kepintaran itu kita raih dengan kemauan yang kuat dalam belajar. Kita hanya pandai mengoceh ditempat tanpa ada usaha.
Saya menyakini, para tokoh yang saya tuliskan di atas, pasti memiliki cita-cita. Cita-citanya yang mengantarkan dia menuju prestasi yang dia torehkan. Tentunya, Butuh perjuangan dan karakter tekun dan ulet dalam pencapaiannya. Jadi Apa pun cita-cita mu!, gemgamlah, jadikan cita-citamu sebagai bekal dalam meniti sisa hidup yang akan kamu jalani. Kita pasti tidak ingin menjadi orang gagal, orang yang tak dapat memberikan mamfaat pada lingkungan kita.
Apa yang bisa kita lakukan sekarang ini?, pertama, tentukan posisimu-mau masuk dari pintu mana, lalu ambil pena dan bukumu, mulailah untuk mewujudkannya karena ujian sekolah akan menyambutmu!. Karena bukan tidak mungkin, kalian bisa seperti mereka (yang berhasil, di atas) dan tidak mustahil, diantara kalian lahir calon pemuda/i pemimpin masa depan. Mengutip sepenggal kalimat dari Budayawan Prie Gs dalam novel Ipung bahwa para pemimpin Indonesia, semuanya berasal dari desa.




